Debu Armada PT BMM dan PT PLP Resahkan Warga Blambangan Umpu

BLAMBANGAN UMPU — Musim kemarau yang melanda kawasan Kabupaten Way Kanan kini memicu ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Tingginya intensitas laluan armada angkutan (truck tangki dan truck) yang diduga milik PT. Palm Lampung Persada (PT. PLP) dan  PT. Bumi Madu Mandiri (PT.BMM) memicu paparan debu tebal yang mengganggu aktivitas serta kenyamanan warga setempat, Jumat (11/9/2026).

Sebagai pusat pemerintahan dan ibu kota Kabupaten Way Kanan, Blambangan Umpu seharusnya mendapat perhatian lebih terkait pengelolaan dampak lingkungan dari operasional industri. Namun, lalu lalang truk bermuatan berat milik kedua perusahaan tersebut justru menyisakan gumpalan debu pekat yang membahayakan para pengguna jalan.

Pengendara roda dua menjadi pihak yang paling terdampak. Selain jarak pandang yang menurun drastis akibat tertutup abu tanah, paparan debu langsung kerap menyebabkan mata perih hingga gangguan pernapasan seperti batuk-batuk. Dampak ini juga meluas hingga ke pemukiman penduduk. Rumah-rumah warga yang berada di sepanjang bibir jalan raya kini dipenuhi debu tebal yang mengotori area teras hingga masuk ke dalam bangunan.

Kondisi tersebut memicu keprihatinan mendalam dari para tokoh setempat. Tokoh masyarakat Blambangan Umpu, Mat Syahri, S.H., menyayangkan sikap apatis manajemen PT BMM dan PT PLP yang dinilai tidak memiliki kepedulian sosial terhadap ekosistem jalan publik yang mereka manfaatkan setiap hari.

“Kami sangat menyayangkan sikap kelalaian dan ketidakpedulian pihak perusahaan. Setiap hari jalan ini dilalui oleh belasan truk angkutan mereka, namun tidak ada langkah konkrit untuk menekan dampak lingkungan yang timbul. Ini soal kualitas udara yang kita hirup bersama,” ujar Mat Syahri, S.H., saat ditemui wartawan.

Ia menegaskan bahwa pembiaran ini tidak boleh terus berlanjut karena berpotensi memicu masalah kesehatan jangka panjang bagi masyarakat sekitar, khususnya penyakit saluran pernapasan akut (ISPA).

“Dampak debu ini bukan sekadar masalah kotor, tapi ancaman kesehatan nyata. Anak-anak dan lansia yang tinggal di pinggir jalan sangat rentan terkena gangguan pernapasan. Jangan sampai perusahaan mengeruk keuntungan, sementara warga Blambangan Umpu yang harus menanggung dampak buruknya,” tegasnya.

Guna mengantisipasi krisis kesehatan yang semakin meluas, Mat Syahri mendesak pimpinan PT BMM dan PT PLP untuk segera mengambil tindakan nyata di lapangan, salah satunya dengan menyiagakan armada penyiram air secara berkala.

“Kami mendesak pimpinan PT BMM dan PT PLP untuk segera beritikad baik. Minimal siapkan armada mobil tangki air khusus untuk menyiram ruas jalan yang dilalui secara rutin. Ini langkah sederhana tapi sangat penting untuk meminimalisir sebaran debu demi keselamatan dan kesehatan warga,” tutup Mat Syahri.

Warga berharap adanya ketegasan dari pihak berwenang serta respons cepat dari manajemen kedua perusahaan kelapa sawit tersebut sebelum dampak lingkungan dan kesehatan warga semakin memburuk.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak PT BMM dan PT PLP. Kendati demikian, awak media masih terus berusaha menghubungi kedua belah pihak untuk meminta klarifikasi.(MHB)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *