TARGETSIBER

Dugaan Korupsi Perkebunan Tebu PT PSMI, Mantan Bupati Way Kanan Diperiksa Kejagung

JAKARTA — Kejaksaan Agung (Kejagung) terus mendalami kasus dugaan korupsi penggunaan dan pemanfaatan kawasan hutan untuk perkebunan tebu oleh PT PSMI di areal kerja PT Inhutani V Lampung. Sebagaimana dihimpun dari laporan Kompas.com, penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung memeriksa dua orang saksi pada Selasa (22/9/2026) guna memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan perkara. Kedua saksi yang hadir memenuhi panggilan penyidik adalah BH dari Kementerian Kehutanan serta BZ, Mantan Bupati Way Kanan periode 2010–2015. Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Anang Supriatna, menegaskan bahwa seluruh proses hukum dijalankan secara transparan dan terukur. “Proses penyidikan dilaksanakan secara profesional, independen, dan akuntabel dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah dan prinsip kehati-hatian,” ungkap Anang dalam keterangan resminya yang dikutip dari Kompas.com. Dalam penanganan kasus ini, Kejagung dilaporkan telah menyita 11 unit mobil operasional milik PT PSMI beserta sejumlah uang tunai sebagai barang bukti. Uang sitaan tersebut kini telah diamankan dan dititipkan pada Rekening Pemerintah Lainnya milik Kejagung di Bank Syariah Indonesia (BSI). Konstruksi Kasus dan Rekam Jejak Dugaan Pelanggaran Mengutip kronologi yang dipaparkan Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Saiful Bahri Siregar, perkara ini berakar dari izin pengusahaan hutan tanaman industri seluas kurang lebih 55.157 hektare yang diterima PT Inhutani V Lampung berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 398 Tahun 1996. Namun sejak 2007, PT PSMI diduga secara melawan hukum melakukan pembukaan lahan dan pemanfaatan hasil hutan di kawasan hutan produksi milik PT Inhutani V di Kabupaten Way Kanan. Tanpa izin yang sah, area seluas kurang lebih 32.375 hektare dialihfungsikan menjadi perkebunan tebu. Upaya melegalisasi tindakan tersebut baru dilakukan pada 2013 melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pola kemitraan pembangunan hutan tanaman tumpang sari antara Direksi PT PSMI dan PT Inhutani V Persero. Masalahnya, MoU tersebut diberlakukan secara surut (retroaktif) dari tahun 2007. “Artinya, MoU yang ditandatangani di 2013 itu adalah perbuatan melawan hukum karena diberlakukan berlaku surut sejak tahun 2007,” terang Saiful sebagaimana dikutip dari Kompas.com. Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal terkait telah menyatakan bahwa perjanjian kemitraan tersebut tidak sah. Penguasaan kawasan hutan dan pembangunan perkebunan tebu tanpa dasar hukum yang valid ini disinyalir kuat telah berdampak langsung pada timbulnya kerugian keuangan negara.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.